Jumat, 26 Desember 2014

Biografi Ita Yulianti – Perempuan Tangguh Dalam Bisnis Teknologi Komunikasi dan IT


       Siapa bilang bisnis teknologi komunikasi dan IT hanya monopoli kaum Adam? Ita Yulianti telah membuktikannya bahwa kaum Hawa pun bisa menjadi pioner dan pemimpin pasar di bisnis ini.Berikut ini adalah Biografi Ita Yulianti.

Biografi

       Memulai bisnis seorang diri dari rumahnya, Ita Yulianti
merambah bisnis dunia teknologi Komunikasi  lewat PT Alita Praya Mitra. Debut proyeknya bukanlah di wilayah domestik tapi justru dinegara konflik yang sedang berperang seperti Kamboja. Keberanian mengambil resiko itu justru membuahkan kepercayaan menangani proyek-proyek besar yang beromset hingga miliaran rupiah.

        Kiprahnya mmebangun PT Alita Praya Mitra bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Setelah lebih 14 tahun berkecimpung di industri telekomunikasi sebagai karyawan, barulah Ita berani mengembangkan sayap dengan mendirikan perusahaan sendiri. Perkenalannya pada dunia telekomunikasi memang sudah menjadi pilihannya sejak bangku kuliah. Begitu lulus sekitar tahun 1983, perempuan asli Bandung ini mulai bekerja di PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).
        Disini ia diterjunkan di bagian transmission engineering. “Saya berkembang dan belajar banyak hal di PT. INTI karena dilibatkan di berbagai proyek. Saya mengenal lingkungan industri telekomunikasi secara keseluruhan juga saat di INTI,” ungkapnya.
       Sebagai satu-satunya perusahaan yang mengerjakan proyek infrastruktur telekomunikasi seperti switching, produksi telepon dan fiber optic, di perusahaan ini pula Ita mengenal vendor telekomunikasi terkemuka asal Jepang, NEC.
       Setelah menikah, Ita harus mengikuti suami pindah ke Jakarta yang membuatnya harus resign dari PT INTI di Bandung setelah 7 tahun bekerja. Selanjutnya ia bergabung dengan PT Nasio SDN Electric, salah satu perusahaan telekomunikasi swasta pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1969. Cikal bakal berkembangnya Alita sendiri terjadi saat Ita memutuskan untuk mundur dari Nasio. Namun sebenarnya keinginan untuk mebuat usaha sendiri sudah tumbuh sejak tahun 1995.
       Walau perusahaan baru, Alita tak kesulitan mendapatkan klien. Langkah pertamanya diawali ketika Indosat mengadakan Joint-Venture Company dengan MPTC yaitu sebuah perusahan telekomunikasi di Kamboja sebagai operator fixed line dan saat itu tengah membutuhkan mitra untuk melaksanakan pekerjaan infrastruktur di Kamboja.
         Walupun masih terbilang baru, Ita merasa memiliki kompetensi lewat pengalamannya bekerja di bidang tersebut. Di proyek ini awalnya ia ditugaskan menyusun konsep dan desain. Lama-kelaman karena dianggap memiliki kompetensi, Ita dan tim Alita terkait diserahi tugas pengerjaannya hingga selesai. Padahal saat itu kondisi Komboja kacau akibat perang yang terjadi di sana.
       Namun melihat prospek yang cerah di negara tersebut, Ita memberanikan diri menerima proyek tersebut. “Saat di Kamboja saya melihat situasi Kamboja mirip Indonesia 30 tahun yang lalu. Jadi buat saya ini masih ada kesempatan untuk tumbuh. Letak geografisnya juga bagus dan mereka dulunya juga kaya. Jadi saya putuskan untuk mengambil tugas itu. Tapi saya mulai dari hal kecil. Saya tidak ingin memulai dari yang besar,” jelasnya. Ita menambahkan saat itu ia memulai hanya sebagai konsultan yang kemudian berlanjut saat proyek pertama untuk melakukan instalasi. Ita punmmebawa teman-teman freelancer dari Indonesia yang berjumlah 20 orang.
       Di wilayah domestik, Ita memulai di Jawa Tengah dimana Alita mendapatkan kepercayaan untuk memberikan jasa telekomunikasi  oleh PT Telekomunikasi Indonesia, TBK divisi regional IV yaitu wilayah Jawa Tengah-DI Yogyakarta. Tak lama setelah itu Alita mulai mendapat banyak tawaran. Mulai dari mmebnagun menara base transceiver system (BTS) dari IM3 Indosat di Jabotabek serta ditawari Satelindo untuk mebangun menara dalam jumlah lebih banyak yaitu 25 unit.
       Semakin dikenalnya rekam  jejak Alita, giliran PT. XL Axiata Tbk mempercayakan Alita untuk mengerjakan proyek transmisi bersama dengan NEC di luar Jawa. Dalam hal ini Alita bertindak sebagai main kontraktor dan menjadi sistem integrator. Sedangkan perangkatnya disediakan NEC. Kepercayaan operator Indonesia mulai tumbuh seiring dengan makin banyaknya proyek yang dikerjakan Alita, bahkan hingga saat ini Alita pun masih dipercayakan untuk mengerjakan berbagai proyek telekomunikasi di Indonesia dan Kamboja.

Perubahan Trend

       “Setelah berdiri kurang lebih 15 tahun, dimana 5 tahun terakhir Alita mulai mengembangkan usahanya, tidak hanya di bidang infrastruktur telekomunikasi saja, tapi sudah meluas ke bidang lainnya seperti IT Solution,” paparnya. Ia menambahkan jika melihat trend ke depan dimana terjadi perpaduan antara telekomunikasi dan IT sehingga akan lebih dibutuhkan IT Solution kedepannya, seperti conten, aplikasi dan lainnya.
       Alita Group yang telah berkembang cukup pesat dan telah menjadi Holding Operating Company, juga senantiasa melakukan rencana strategis dan ekspansi bisnis melalui diversivikasi bisnis lini Alita Group pada anak-anak perusahaannya, yang terdiri dari bidang infrastruktur telekomunikasi yaitu PT Nasio Karya Pratama, PT Buana Selaras Globalindo dan Alita Cambodia. Sedangkan untuk bidang IT Solution yaitu melalui PT. Smart Aplikasi Indonesia dan PT. Nutech Integrasi.
       Bukan cuma itu, dimulai dari satu orang karyawan pada awal pendirian perusahaan, kini Alita dibawah kepemimpinan Ita telah mempekerjakan kurang lebih 500 orang dengan omset ratusan miliar setiap tahunnya. Kepiawaian Ita sebagai pengusaha handal tidak sebatas pada dunia usaha telekomunikasi dan IT tetapi Ita juga memiliki bisnis dan ketertarikan mengelola restoran dan butik.

Jiwa Sosial

       Sebagai seorang entrepreneur, perhatian Ita tak hanya sebatas keuntungan, ia juga memiliki kepedulian terhadap pengusaha kecil dan menengah. Hal ini terbukti dengan dibangunnya yayasan Yakin (Yayasan Inkubator Indonesia) yang berpusat di Yogyakarta dimana aksi sosialnya yaitu dengan memberi bantuan modal tanpa bunga pada para pengusaha krupuk dan pedagang kecil di Yogyakarta agar bisa mengembangkan usahanya.
      Wah keren ya bu Ita. Awalya Cuma profesional tapi berkat kecerdasan, kejelian serta berani ambil resiko, bu Ita bisa meningkatkan kualitas hidupnya menjadi seorang pebisnis sukses dan tak tanggung-tanggung bidang bisnisnya adalah dunianya para “lelaki” alias jarang perempuan yang memiliki kompetensi seperti bu Ita di bisnis ini namun beliau bisa dan sukses menjadi pemimpin di bisnis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar